METODE TAFSIR
MAKALAH






Dosen :
Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I

Disusun oleh :
Idha Mahendra Kusmiyanto
(B95219102)




JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2019



KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

            Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan saya kemudahan sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolonganNya tentunya saya tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti nantikan syafa’atnya diakhirat nanti.
            Saya mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehatNya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga saya mampu menyelesaikan pembuatan makalah ini dengan judul “ METODE TAFSIR “
            Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada dosen dan asisten dosen yang telah membimbing dalam menulis makalah ini.
            Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh




Surabaya, 21 Agustus 2019




DAFTAR ISI



Kata pengantar........................................... ii
Daftar isi ..................................................... iii
Bab I Tafsir Bil Ma’tsur ............................ 1
       A.    Pengertian Tafsir Bil Ma’tsur ....... 1
       B.    Acuan Tafsir Bil Ma'tsur................. 2
       C.     Kemunculan Tafsir Bil Ma’tsur ... 2
       D.    Kelebihan Tafsir Bil Ma’tsur ........ 2
       E.     Kedudukan Tafsir Bil Ma’tsur...... 4
       F.      Pembagian Tafsir Bil Ma’tsur ...... 5
       G.    Kelemahan Tafsir Bil Ma’tsur ....... 5
       H.    Hukum Tafsir Bil Ma'tsur............... 6
Bab II Tafsir Bil Ra’yi ................................. 7
       1)      Pengertian Tafsir Bil Ra'yi............. 7
       2)      Pandangan ulama tentang Tafsir Bil Ra’yi ........................... 8
       3)      Pembagian Tafsir Bil Ra’yi ........... 9
       4)      Kedudukan Tafsir Bil Ra’yi......... 12
       5)      Kelebihan Tafsir Bil Ra’yi ........... 13
Bab III Israiliyat ........................................ 14 
       1)      Pengertian Israiliyat ..................... 14
       2)      Macam macam cerita (riwayat) Israiliyat ........................... 14
       3)      Hukum yang meriwayatkan cerita (riwayat) Israiliyat........ 15
       4)      Kitab kitab tafsir yang melibatkannya ................................ 15
Kesimpulan ............................................... 18
Daftar pustaka ......................................... 19





BAB I
TAFSIR BIL MA’TSUR



A.    Pengertian Tafsir Bil Ma’tsur

1)      Tafsir bil ma’tsur ialah penafsiran dengan berpegang pada penjelasan yang terdapat didalam ayat Al Qur’an itu sendiri yang mencakup penjelasan, perincian, sebagian ayat, serta riyawat yang dikutip Nabi, sahabat, dan tabi’in[1].
2)      Tafsir bil ma’tsur ialah tafsir yang berdasarkan pada kutipan kutipan yang sahih menurut urutan yang telah disebutkan dimuka dalam syarat syarat mufasir. [2]
3)      Tafsir bil ma’tsur ialah Rangkaian keterangan yang terdapat dalam Al Qur’an, as-Sunnah atau kata kata sahabat sebagai keterangan dan penjelas maksud dari ayat Allah atau bisa dikatakan satu pola penafsiran al quran dengan as-Sunnah an-Nabawiyah.[3]
4)      Tafsir bil ma’tsur ialah penafsiran Al Qur’an terhadap sebagian ayat yang lain.[4]

B.     Acuan Tafsir Bil Ma’tsur

Acuan  tafsir bil ma’tsur adalah sebagai berikut :
             1)      Menafsirkan ayat Al Qur’an dengan ayat Al Qur’an lainnya. 
             2)      Menafsirkan Al Qur’an dengan hadis Nabi.
       3)  Menafsirkan Al Qur’an dengan pendapat sahabat. Sementara itu, pendapat tabi’in masih diperselisihkan.[5]

C.    Kemunculan Tafsir Bil Ma’tsur

Tafsir bil ma’tsur disusun berdasarkan riwayat dari Nabi. Setelah itu sahabat menerimanya dan menyampaikannya kepada tabi’in. Oleh sebab itu, tafsir semacam ini disebut dengan tafsir bil ma’tsur atau tafsir bi al manqul yang artinya disampaikan (dipindahkan) dari mulut ke mulut.[6]

D.    Kelebihan Tafsir Bil Ma’tsur

Tafsir bil ma’tsur merupakan tafsir yang paling tinggi dan memiliki nilai lebih apabila dibandingkan dengan tafsir bil ra’yi. Berikut ini alasan alasannya :
      1)      Menafsirkan ayat Al Qur’an dengan ayat Al Qur’an lainnya.
      Hal ini karena ayat Al Qur’an menafsirkan ayat lainnya ayat yang global dijelaskan oleh ayat lain yang spesifik dan ayat yang bersifat umum dijelaskan oleh ayat lain yang bersifat khusus. Inilah tafsir yang paling tinggi.
      2)      Menafsirkan ayat Al Qur’an dengan hadis Rasulullah.
      Salah satu fungsi hadis adalah menjelaskan Al Qur’an. Ayat yang datang secara global, dijelaskan oleh hadis Nabi. Begitu juga dengan ayat ayat yang masih mutlak dan umum, dibatasi dan dikhususkan dengan hadis. Ini sebanding dengan kekuatan hadis hadis lainnya.
      3)      Menafsirkan ayat Al Qur’an dengan pendapat sahabat.
     Sahabat hidup semasa dengan turunnya wahyu. Mereka tentunya lebih mengerti maksud Al Qur’an sehingga pendapat mereka dapat dijadikan rujukan. Oleh sebab itu, muncul istilah tafsir sahabi’ ( tafsir sahabat ).
      4)      Menafsirkan ayat Al Qur’an dengan pendapat tabi’in
      Kebanyakan ulama memasukkan tafsir kaum tabi’in ke dalam kelompok tafsir bil ma’tsur. Hal ini karena mereka belajar dari generasi sahabat. Dengan demikian, mereka termasuk ulama salaf yang perlu dipertimbangkan keilmuannya. Tafsir ini disebut juga dengan tafsir tabi’in.[7]

E.     Kedudukan Tafsir Bil Ma’tsur 

            Tafsir bil ma’tsur dianggap sebagai tafsir yang memiliki kekuatan hukum. Meskipun demikian, tetap harus dipertimbangkan terlebih dahulu berdasarkan hal hal berikut :
      1)      Menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an tergolong ke dalam tafsir bil ma’tsur.
Apabila tafsir Al Qur’an dengan Al Qur’an dilakukan oleh Nabi, hasilnya merupakan tafsir Nabi. Dengan demikian, tafsir ini memiliki kekuatan hukum yang pasti. Sementara itu, apabila tafsir Al Qur’an dengan Al Qur’an dilakukan dengan oleh sahabat, hasilnya merupakan tafsir sahabat. Di sisi lain, jika tafsir berkaitan dengan sebab turun ayat atau masalah yang ghaib, tafsir tersebut memiliki kedudukan yang marfu’, yaitu setara dengan tafsir Nabi. Hal ini karena adanya kemungkinan mereka meriwayatkan dari Nabi dan ini harus diterima. Sementara itu, tafsir mereka mengenai Al Qur’an memiliki ruang untuk berijtihad. Oleh karena itu, kedudukannya seperti hadis mauquf. Adapun tafsir Al Qur’an dengan ayat lain yang dilakukan oleh tabi’in, kedudukannya sebagai tafsir tabi’in. Jika terjadi kesepakatan (ijma’) di antara mereka, harus diterima sebagai landasan hukum.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disumpulkan bahwa setiap tafsir baik yang dilakukan oleh sahabat maupun tabi’in apabila terjadi kesepakatan di antara mereka, tafsir tersebut memiliki kekuatan hukum.
      2)      Apabila menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an yang dilakukan oleh sahabat atau tabi’in dan tidak ada kesepakatan, tafsir tersebut termasuk tafsir bi ar ra’yi. Tafsir ini tidak harus diterima karena merupakan hasil ijtihad yang bisa jadi benar atau salah.

F.     Pembagian Tafsir Bil Ma’tsur

Menurut Az-Zarqani, [8]tafsir bil ma’tsur dikelompokan menjadi dua, yaitu :
1)      Tafsir dengan dalil dalil pendukung yang sempurna tidak boleh ditolak.
2)      Tafsir dengan riwayat pendukung yang dha’if harus ditolak
Hal yang perlu digaris bawahi adalah bahwa tafsir bil ma’tsur tidak hanya mengandalkan riwayat, tetapi juga membutuhkan ijtihad baik dari mufasir maupun pembaca. Ijtihad yang dilakukan mufasir adalah upaya menyeleksi riwayat dan menelitinya. Sementara itu, ijtihad dari pembaca adalah meneliti pendapat mufasir karena mufasir mungkin memasukkan pendapat yang tidak sesuai dengan syariat.

G.    Kelemahan Tafsir Bil Ma’tsur :

Menafsirkan Al Qur’an dengan menggunakan Al Qur’an dan hadis menempati posisi yang utama. Akan tetapi, menafsirkan Al Qur’an dengan pendapat sahabat itu hukumnya lemah. Berikut alasan alasannya :
      1)      Bercampurnya riwayat yang shahih dengan yang dha’if karena dikutip tanpa sanad yang jelas.
      2)      Riwayat kadang tercampur dengan riwayat isra’iliyat yang dipenuhi oleh khurafat.
      3)   Orang yang berpegang pada satu mazhab tertentu mengeluarkan pendapat untuk mendukung               mazhabnya tersebut.
      4)      Orang orang zindik berdusta dan memasukkan pendapat mereka ke dalam hadis.
    5)      Mufasir dapat terpengaruh oleh pendapat sendiri. Di sisi lain, mufasir mencampur adukkan kutipan kutipan yang diambil sehingga membuat orang lain tidak mampu membedakan mana yang shahih dan mana yang dha’if.

H.    Hukum Tafsir Bil Ma’tsur

            Apabila tafsir bil ma’tsur digarap sesuai dengan prosedur yang benar dan riwayat riwayatnya shahih kita wajib berpedoman dengannya. riwayat yang dha’if harus diteliti terlebih dahulu. Sebaliknya jika tidak sesuai dengan prosedur yang ada dan riwayat riwayatnya tidak shahih, kita harus meninggalkannya. Ada peluang untuk diterima. Namun, jika riwayat dha’if tidak relevan dengan riwayat yang shahih, tetapi berkaitan langsung dengan hukum primer atau tidak bertentangan dengan logika dapat dipertimbangkan. Disisi lain jika riwayat dha’if bertentangan dengan riwayat yang shahih dan logika, harus ditolak.


BAB II
TAFSIR BIL  RA’YI



A.    Pengertian Tafsir Bil Ra’yi

      1)      Tafsir bil ra’yi merupakan tafsir yang didasari oleh ijtihad. Adapun ijtihad dilakukan harus sesuai dengan kaidah yang benar, tafsir bil ra’yi juga sering disebut dengan tafsir al-Aqli. [9]
     2)      Menurut ulama tafsir, tafsir dirayah, ra’yu, atau tafsir dengan akal atau berdasarkan pada ijtihad adalah tafsir yang dalam menjelaskan maknanya mufasirnya hanya berpegang pada pemahaman sendiri dan penyimpulkan yang didasarkan pada ra’yu, disamping berdasar pada dasar dasar yang sahih, kaidah yang murni dan tepat.[10]
     3)      Tafsir bil ra’yi ialah tafsir yang didalam menjelaskan maknanya mufasir hanya berpegang pada pemahaman sendiri dan penyimpulan ( istinbat) yang didasarkan pada ra’yu semata. [11]
          Mufasir yang menggunakan cara ini hendaknya menguasai ilmu bahasa arab. Mufasir yang menggunakan tafsir bil ra’yi ini harus berupaya agar pendapatnya sesuai dengan Al Qur’an. Dengan demikian hasil penafsiranya lebih dapat dipertanggung jawabkan.
            Ulama salaf sangat berhati hati dalam menafsirkan sesuatu. Mereka khawatir akan terjerumus ke dalam ijtihad yang mazmum (tercela). Oleh sebab itu, banyak ulama salaf yang menulis kitab tafsir dari para pendahulu dengan cara mengutip tanpa disertai penjelasan tambahan, seperti Abdurrazaq bin Abi Hatim dan Sufyan bin Uyainah.

B.     Pandangan ulama tentang Tafsir Bil Ra’yi

            Ulama berbeda pendapat mengenai tafsir bil ra’yi. Ada yang menolak ada pula yang menerima. Ulama yang menolak tafsir bil ra’yi memiliki alasan alasan berikut :
      1)      Tafsir bil ra’yi merupakan interpretasi kalam Allah tanpa dilandasi pengetahuan. Hal itu dilarang karena mufasir memberikan penjelasan tanpa adanya keyakinan. Dengan kata lain mufasir memberikan penjelasan dengan keraguan padahal keraguan tidak dapat dijadikan argumen.
      2)      Berpendapat harus dilandasi pengetahuan. Hal ini disebutkan dalam dua ayat berikut :



Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. QS. Al Isra [17] : 36




Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui".  QS. Al A’raf  [7] : 33

C.    Pembagian Tafsir Bil Ra’yi

            Tafsir bil ra’yi merupakan hasil ijtihad mufasir. Apabila ijtihad yang dilakukan didukung dengan syarat syarat yang dibutuhkan, ijtihad tersebut adalah ijtihad yang baik. Sebaliknya apabila ijtihad dilakukan tanpa didukung syarat syarat yang dibutuhkan ijtihad tersebut adalah ijtihad yang tidak baik. Menafsirkan Al Qur’an merupakan ikhtiar untuk menemukan petunjuk Al Qur’an. Dalam berikthiar ada ulama yang menggunakan seperangkat ilmu untuk mengistinbathkan petunjuknya. Disisi lain ada pula yang mengandalkan pendapatnya tanpa didukung ilmu. Meskipun demikian, tujuan sama yaitu menemukan pesan pesan yang dikomunikasikan Allah SWT. Dengan kata lain upaya mufasir yang tidak berdasarkan Al Qur’an, hadis, atau ijma tergolong tafsir bil ra’yi.
Tafsir bil ra’yi dibedakan menjadi dua yaitu tafsir bil  ra’yi al mahmud dan tafsir bil ra’yi al madzmum.
      a.       Tafsir bil ra’yi al mahmud
            Tafsir bil ra’yi al mahmud ialah ikhtiar untuk menemukan pemahaman Al Qur’an dengan menggunakan berbagai pengetahuan seperti ilmu bahasa arab atau konteks ayat tanpa dilandaskan pada riwayat dari generasi sebelumnya.
1)      Hukum tafsir bil ar ra’yi al mahmud
Menurut ulama, boleh menafsirkan ayat ayat al quran berdasarkan bahasa dan nilai nilai syariat. Hal di landasi oleh ayat berikut :


Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? QS. Al Qamar [54] : 17  

2)      Syarat diterimanya tafsir bil ra’yi al mahmud
     Untuk menafsirkan Al Qur’an dengan menggunakan ijtihad seorang mufasir harus memenuhi beberapa syarat agar hasil tafsirnya dapat diterima. Berikut ini syarat syarat diterimanya tafsir bil ra’yi al mahmud:
1)      Memiliki kutipan dari Rasulullah yang terjaga dari riwayat dha’if dan maudhu
2)      Berpegang pada pendapat sahabat. Pendapat tersebut berkedudukan hukum marfu’ terlebih lagi yang berkaitan dengan sebab turun ayat.
3)      Berpegang pada kemutlakan bahasa
4)      Berpegang pada petunjuk yang diisyaratkan oleh struktur kalam dan berpegang pada hal hal yag ditunjukan oleh syarat.
      b.      Tafsir bil ra’yi al madzmum
         Tafsir bil ra’yi al madzmum ialah tafsir yang menggunakan pendapat semata mengikuti hawa nafsu, tidak menggunakan ilmu, dan tidak melihat pendapat ulama lain atau pendapat yang sesuai dengan ketentuan.
         Tafsir bil ra’yi al madzmum dilarang oleh ulama salaf. Pelakunya dikecam karena tafsir itu dilakukan atas dasar kefanatikan terhadap suatu mazhab dan mengorbankan agama. Dengan kata lain jika menafsiran Al Qur’an hanya berdasarkan hawa nafsu ikthiar tersebut termasuk tafsir bil ra’yi al madzmum yang harus ditolak.

      c.       Kemunculan tafsir bil ra’yi al madzmum
            Tafsir ini pada mulanya digunakan ulama untuk membela mazhab yang diikuti. Selanjutkan mereka mencari cari sejumlah ayat Al Qur’an yang dapat menguatkan pendapat mereka. Tidak hanya itu mereka bahkan memaksakan ayat ayat Al Qur’an agar dapat sesuai dengan mazhab yang diikuti.
              Tafsir bil ra’yi sebenarnya telah muncul sejak masa sahabat. Ketika itu belum muncul bermacam macam mazhab serta wilayah kekuasaan islam belum begitu luas sehingga tafsir belum diwarnai dengan beragam kepentingan. Namun waktu terus berjalan dan mazhab yang dianggap menyimpang pun muncul. Hal itu mengakibatkan Al Qur’an ditafsirkan dengan ijtihad yang menyimpang serta tidak menggunakan tinjauan kebahasaan yang benar. Oleh sebab itu muncullah istilah tafsir bil ra’yi al madzmum.

      d.      Hukum tafsir bil ra’yi al madzmum
            Hukum tafsir bil ra’yi al madzmum itu haram dan hasilnya tidak boleh dipraktikkan karena banyak memberikan mudarat dan bahkan menyesatkan manusia. Berikut ini alasan alasan yang menunjukkan haramnya tafsir bil ra’yi al madzmum.

D.    Kedudukan Tafsir Bil Ra’yi

            Tujuan tafsir adalah memenuhi kebutuhan umat terhadap pemahaman kitab Allah dan menjelaskan hal hal yang belum dapat dipahami. Apabila tidak ditemukan riwayat, mufasir dituntut untuk berijtihad. Sehubungan dengan itu kelompok yang mula mula menafsirkan Al Qur’an dengan ijtihad adalah madrasah kufah yang dipelopori oleh Abdullah bin Mas’ud.
            Tidak seluruh ayat Al Qur’an ditafsirkan oleh generasi awal. Oleh sebab itu tafsir bil ra’yi memiliki peran yang sangat penting untuk menjelaskan ayat ayat yang belum ditafsirkan. Tidak hanya itu, tafsir bil ra’yi mampu menyuguhkan pemahaman baru sehingga Al Qur’an dapat tetap berlaku sepanjang masa.  

E.     Kelebihan Tafsir Bil Ra’yi

        1)      Melakukan tafsir bil ra’yi sama saja melakukan perintah Allah yaitu berijtihad
        2)      Tafsir bil ra’yi merupakan upaya untuk mengetahui makna makna kitab Allah.
        3)      Tafsir bil ra’yi menjadikan disiplin ilmu Al Qur’an terus berkembang
        4)      Tafsir bil ra’yi dapat mengadaptasi Al Qur’an sesuai dengan kehidupan masa kini.

          Dengan kata lain mufasir boleh berijtihad untuk memperoleh pemahaman yang baru serta mengistinbath kan makna dan hikma Al Qur’an. Sehubungan dengan itu Abdullah Syahatah menyatakan bahwa terpengaruhnya tafsir dengan disiplin ilmu yang digelutinya mufasir bukanlah sesuatu yang negatif selama tidak menjadikan Al Qur’an hanya sebagai kitab pengetahuan. Dengan demikian segala bentuk ijtihad yang tidak membuat manusia berpaling dari Al Qur’an tidaklah dilarang.


BAB III
ISRAILIYAT



A.    Pengertian Israiliyat

          Israiliyat merupakan cerita yang dikisahkan dari sumber israiliy. Israiliyah dinisbatkan kepada israil yaitu Ya’qub dan Ishaq bin Ibrahim yang mempunyai 12 keturunan. Bani Israil adalah juga disebutkan dengan yahudi. Meski pada mulanya cerita ini menunjukkan kisah kisah yang bersumber dari orang orang yahudi, tetapi kemudian masuk ke dalam istilah ini semua cerita lama, baik yang bersumber dari yahudi maupun nasrani atau semua agama diluar islam yang merembes pada penafsiran Al Qur’an dan hadith. [12]

B.     Macam macam cerita ( riwayat ) Israiliyat :

a. Dari segi sah atau tidaknya maka terbagi menjadi dua :
1)      Cerita yang sahih maka boleh meriwayatkan.
2)      Cerita yang tidak sahih, maka tidak boleh meriwayatkan.
b. Dari segi sesuai atau tidaknya maka terbagi menjadi dua :
1)      Cerita yang sesuai dengan shara maka boleh meriwayatkan dan mengambilnya
2)      Cerita yang tidak sesuai dengan shara maka tidak boleh meriwayatkan.

c. Dari segi materi :
          1)      Berhubungan dengan aqidah
          2)      Berhubungan dengan shari’ah (hukum)
        3)     Berhubungan dengan nasehat atau peristiwa atau kejadian yang tidak berkaitan dengan akidah maupun hukum.

C.    Hukum yang meriwayatkan cerita (riwayat) Israiliyat

Dasar hukum tentang israiliyat, QS.Yusuf  [12] : 111




          Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

D.    Kitab kitab tafsir yang melibatkannya

Dari segi periwayatan israiliyat dengan cara mendiamkan dan mengkritisinya antara lain :
a. Tafsir Ibn Jarir at Tabariy
1)      Pengarang menuangkannya dengan menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan bisa diterima atau tidaknya cerita tersebut.
2)      Pengarang menyertakan sanad dengan sempurna
3)      Membiarkan pembaca untuk meriwayatkan atau tidak
b. Tafsir Ibn Kathir
1)      Pengarang menuangkannya dengan meriwayatkan sanad sanadnya
2)      Pengarang memberikan komentar tentang cerita tersebut dengan menjelaskan hakikat dan pertimbangannya.
3)      Pengarang menyeleksi periwayatkannya dengan ketat
c. Tafsir Muqatil bin Sulaeman
1)      Pengarang menuangkannya dengan tanpa memberikan sanad sama sekali
2)      Pengarang menuangkannya dengan tanpa memberikan komentar
3)      Pengarang menuangkannya dengan tanpa memberikan penyeleksian
d.   Tafsir Khazin Lubab At Ta’wil Fi Ma‘an At Tanzil
1)      Pengarang menuangkannya dengan tanpa memberikan sanad sama sekali
2)      Pengarang terkadang menunjukkan kelemahan riwayatnya dengan menggunakan sigat (bentuk kata) yang kurang sehat (qila)
3)      Pengarang terkadang meriwayatkan riwayatnya tanpa dituntaskan karena didalamnya terdapat kebatilan yang mengarah kepada penyimpangan aqidah, misalnya  merusak citra ke ismahan / kema’suman (terpeliharannya) pribadi seorang rasul Allah dari perbuatan dosa.
e. Tafsir Al Alusiy
1)      Pengarang menuangkannya denga tanpa memberikan sanad sama sekali
2)      Pengarang menuangkannya dengan tujuan mengkritisi cerita dengan tajam
3)      Pengarang menuangkannya dengan tujuan memberi peringatan kepada pembaca agar tidak larut dalam cerita islailiyat.[13]

Berkaitan dengan riwayat israiliyat, ilmu tafsir dikelompokkan menjadi tiga :
   1)    Riwayat israiliyat yang sesuai dengan syariat islam. Hal ini dapat diketahui dengan membandingkan dengan syariat islam. Jika sesuai dapat diterima
   2)   Riwayat israiliyat yang bertentangan dengan syariat islam. Riwayat tersebut harus ditolak serta tidak boleh digunakan dalam tafsir.
  3) Riwayat israiliyat yang tidak bertentangan serta tidak cocok dengan syariat islam. Kita tidak diperbolehkan mendustakan riwayat itu dan tidak pula membenarkannya. Meskipun demikian kita diperbolehkan untuk menyampaikannya. Riwayat tersebut termasuk riwayat yang tidak ada manfaatnya untuk diketahui.




KESIMPULAN

            Ilmu tafsir senantiasa berkembang dari masa ke masa. Banyak sekali metode yang digunakan dalam penafsiran. Secara garis besar tafsir dibagi menjadi dua yaitu tafsir bil ma’tsur dan tafsir bil ra’yi.
            Tafsir bil ma’tsur adalah suatu usaha untuk memahami ayat-ayat Al Qur’an dengan Al Qur’an atau dengan al-Hadits bahkan perkataan para sahabat termasuk juga para tabi’in. Tidak mencakup semua ayat Al Qur’an, dan mereka juga menafsirkan bagian-bagian yang sulit dipahami orang semasa dengan mereka.
            Tafsir bil ra’yi adalah upaya menjelaskan makna ayat Al Qur’an dengan menggunakan kemampuan akal pikiran. Terhadap tafsir bi al-ra’yi, sebenarnya, para ulama berbeda pendapat, ada yang membolehkan ada juga yang mengharamkannya. Jika dikaji ulang, sebetulnya pengharaman mereka hanya berlaku kalau di dalam menafsirkan ayat al-Qur’an dengan ra’yu itu tidak terdapat dasar sama sekali atau dilaksanakan tanpa pengetahuan kaidah bahasa Arab, pokok-pokok hukum syari’at dan sebagainya, atau penafsirannya tersebut dipakai untuk menguatkan kemauan nafsu belaka.
            kisah Israiliyyat adalah kisah-kisah yang sebagian besar bersumber dari orang-orang Yahudi baik disadari atau tidak, yang telah menyusup kedalam khazanah Tafsir Al-Quran dan hadis kedua latar belakan timbulnya israiliyyat adalah semakin banyaknya orang-orang Yahudi atau ahli kitab yang masuk Islam.


DAFTAR PUSTAKA

                                                                                        


'Aridl, A. H. (1994). Sejarah dan metodologi tafsir. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Aziz, M. Ali. (2018). Mengenal tutas Al Qur'an . Surabaya: Imtiyaz.
Baidan, N. (2002). Metode penafsiran Al Quran. Yogyakarta: Pustaka pelajar.
Fudlali, A. (1993). Pengantar ilmu tafsir. Bandung: Angkasa.
Iqbal, M. S. (t.thn.). Pengantar ilmu tafsir . Jakarta: Bumi aksara.
Qattan, M. K. (2016). Studi ilmu ilmu quran . Bogor: Litera AntarNusa.
reviewer, T. (2013). Studi Al Qur'an . Surabaya: UIN Sunan Ampel press.
reviewer, T. (2014). Studi Al Quran. Surabaya: UIN Sunan Ampel press.
reviewer, T. (2015). Bahan ajar studi Al Quran. Surabaya: UIN Sunan Ampel press.
Reviewer, T. (2018). Bahan ajar studi Al Qur'an . Surabaya: UIN Sunan Ampel press.
Samsurrohman. (2014). Pengantar ilmu tafsir . Jakarta: Amzah.
Shiddiqi, H. a. (t.thn.). Sejarah dan pengantar ilmu Al Quran . Bulan bintang.






[1]Samsurrohman, pengantar ilmu tafsir, Jakarta, AMZAH, 2014, cet 1.
[2] Manna’ Khalil al Qatttan, Studi ilmu ilmu Quran, Bogor, Litera AntarNusa, 2016, cet 17
[3] Tim Reviewer, Bahan ajar studi al Quran, Surabaya, UINSA press, 2018, cet 8 
[4] Ali Hasan, Sejarah dan metodologi tafsir, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 1994, cet 2

[6] Samsurrohman, pengantar ILMU TAFSIR, Jakarta, AMZAH, 2014, cet 1.
[7] Samsurrohman, pengantar ilmu tafsir, Jakarta, AMZAH, 2014, cet 1.
[8] Samsurrohman, pengantar ilmu tafsir, Jakarta, AMZAH, 2014, cet 1.
[9] Samsurrohman, pengantar ilmu tafsir, Jakarta, AMZAH, 2014, cet 1.
[10] Tim Reviewer, Bahan ajar studi al Quran, Surabaya, UINSA press, 2018, cet 8 
[11] Manna’ Khalil al Qatttan, Studi ilmu ilmu Quran, Bogor, Litera AntarNusa, 2016, cet 17
[12] MKD UIN SUNAN AMPEL SURABAYA, Bahan ajar studi al Quran, Surabaya, UINSA press, 2018, cet 8 

[13] MKD UIN SUNAN AMPEL SURABAYA, Bahan ajar studi al Quran, Surabaya, UINSA press, 2018, cet 8